Kamis, 03 Oktober 2013

Pengemis di Mampang Prapatan Mengaku Dapat 3,5 Juta Dalam 10 Hari

Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan (Sudinsos Jaksel) menangkap seorang pengemis yang membawa uang sebesar Rp 3,56 juta di depan Pasar Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Uang tersebut disimpan di dalam karung besar berisi botol-botol bekas.

Kepala Seksi Penertiban dan Rehabilitasi Sudinsos Jaksel Miftahul Huda mengatakan, pengemis tersebut diketahui bernama Enot (71), asal Rangasdengklok, Jawa Barat. Uang disimpan di dalam kantong plastik hitam dan dalam berbagai pecahan mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 50.000.

"Saat mau diamankan karungnya, Enot tidak mau melepaskan. Ternyata saat botol-botol dikeluarkan, ada uang yang jumlahnya jutaan tersimpan. Tidak ada recehan koin," ucap Miftahul saat dihubungi Kompas.com, Kamis (3/10/2013).

Menurut Miftahul, dari keterangan Enot, uang tersebut dikumpulkan dalam waktu 10 hari. Meskipun hidup seorang diri di Jakarta dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, nenek berusia 71 tahun ini bisa menghidupi dirinya lebih dari cukup. Dengan berbekal muka memelas dan membawa karung besar, Enot mengais rezeki dengan mengemis dan memulung.

"(Uang itu) dia buat makan saja, kan nenek-nenek suka menyimpan uang. Hidup sendiri di Jakarta, ya tidur di mana saja, yang penting cari uang," kata Miftahul.

Enot ditangkap dalam penertiban yang dilakukan pada Jumat (27/9/2013) pekan lalu. Dalam penertiban di hari tersebut, Sudinsos Jaksel menciduk 19 pengemis di sejumlah tempat. Pada Sabtu (28/9/2013), diringkus lagi 5 pengemis di tempat berbeda.

Miftahul mengatakan, pihaknya kerap mendapatkan pengemis yang membawa uang. Kebanyakan pengemis bahkan masih berusia produktif dan tanpa cacat fisik. "Yang uangnya banyak itu perempuan biasanya. Tapi paling banyak Rp 1 juta-Rp 2 Juta. Tidak pernah sebanyak yang dibawa Enot ini," ucapnya.

Selanjutnya, Enot beserta pengemis-pengemis lain yang terjaring penertiban dikirim ke Panti Sosial Bina Insani (PSBI) Bangun Daya, Cipayung, Jakarta Timur.

Miftahul mengatakan, Dinas Sosial DKI Jakarta sangat mengharapkan dukungan nyata dari masyarakat untuk memberantas pengemis di jalanan. Ia mengimbau warga tidak memberikan uang tunai langsung di jalan kepada para peminta-minta. Bantuan hendaknya disalurkan melalui yayasan-yayasan sosial ataupun rumah ibadah yang dikelola secara resmi.

"Kalau memberi uang di jalan, akan mendidik mereka menjadi pemalas. Pembinaan akan percuma karena mereka tetap akan kembali ke jalanan," kata Miftahul.

Sumber
Kompas