Selasa, 16 Juli 2013

Swedia Puasa Hampir 24 Jam, Argentina Cuma 9 Jam


Umat muslim dunia saat sedang menjalankan ibadah puasa. Menahan lapar, haus, dan terutama hawa nafsu. Kondisi geografis ternyata sangat berpengaruh dalam menjalankan ibadah tersebut, ada yang harus berpuasa hingga lebih dari 20 jam, atau sebaliknya, kurang dari 12 jam.

Cuaca juga menjadi faktor penting. Umat muslim di Teluk menghadapi salah satu bulan puasa terberat. Sebab, Ramadan tiba di tengah cuaca terik padang pasir. Waktu berpuasa pun makin panjang, lebih dari 15 jam sehari di pertama bulan suci.


Namun, soal waktu, umat muslim di Teluk masih kalang di sejumlah negara Belahan Bumi Utara seperti Swedia. Denmark, dan Finlandia, yang bisa melebihi waktu 20 jam. Luar biasa!

Lebih jauh ke utara, di Swedia dan Islandia, mereka tak pernah mendapatkan gelap di Bulan Juni. Dan ini berarti, terang bisa terjadi sepanjang 24 jam -- di Ramadan 2015, dua tahun lagi.

"Aturan Islam sangat jelas terkait puasa. Bahwa umat muslim tak boleh makan dan minum sebelum fajar sampai matahari terbenam, tetapi ada pengecualian karena agama Islam fleksibel, "kata Sheikh Abdul Basit Dirawi, ustad di Abu Dhabi, seperti dimuat Emirates 24/7

"Misalnya, saat seorang muslim yang berpuasa bepergian dengan pesawat ke tempat jauh. Dalam kasus seperti itu, ia harus membuat estimasi logis. Di daerah, di mana matahari tidak pernah terbenam, ia hanya harus mengikuti pola kota terdekat atau mencari saran para ulama jika mungkin."

Di sisi lain, di belahan lain dunia, muslim di negara Amerika Selatan seperti Argentina menikmati puasa terpendek. Rata-rata hanya 9 jam.

Sementara di Australia, di mana ribuan muslim tinggal, waktu puasa sedikit lebih panjang dari Amerika Latin, rata-rata 10 jam selama Ramadan. Sebab, bertepatan dengan musim dingin.

Efek Cuaca

Sebelum merasa kasihan dengan umat muslim di Belahan Bumi Utara, ada baiknya kita memperhatikan soal cuaca.

Meski puasa berlangsung amat panjang, cuaca musim panas di sana cenderung ringan, dengan suhu relatif rendah, tak lebih dari 25 derajat Celcius. Sementara, meski lebih pendek, Ramadan di Semenanjung Arab bertepatan dengan periode terpanas tahun ini, dengan suhu udara bisa mencapai 50 derajat Celcius di beberapa titik.

"Ramadan tahun tiba di tengah-tengah musim panas yang dimulai pada 21 Juni sampai dengan 22 September. Prakiraan iklim menunjukkan bahwa suhu selama Ramadan akan menjadi sangat panas dan lembab, dan suhu akan naik ke rekor tertinggi di beberapa daerah," demikian pengumuman Badan Meteorologi Arab Saudi.

Swedia dan Finlandia

Memang berat berpuasa lebih dari 20 jam. Seorang ulama di Swedia Sheikh Mahmoud Khalfi mengatakan, ini adalah cobaan yang berarti bagi umat muslim di sana.

"Cobaan untuk menguatkan kesabaran dan kehendak. Anda belajar bagaimana mengontrol keinginan. Juga mengajarkan solidaritas pada mereka yang miskin dan papa -- yang tak punya apapun untuk dimakan."

Di Finlandia, surat kabar setempat mengutip seorang muslim Bangladesh yang mengatakan, ia berpuasa rata-rata 21 jam selama bulan Ramadan tahun lalu. "Tak ada gelap di sini. Selalu tampak sama," kata Shah Jalal Miah Masud, yang tinggal di Rovaniemi, hampir 830 kilometer utara ibukota Helsinki. "Matahari selalu di cakrawala".

Sementara, menurut seorang imam muslim di Finlandia, ada pilihan lain, yakni mengurangi jumlah jam puasa - mengikuti terbit dan terbenamnya matahari di negara-negara jauh di selatan Finlandia.

Imam Abdul Mannan, presiden Islam Society of Northern Finlandia, mengatakan ada dua aliran pemikiran dalam hal ini.

"Para ulama Mesir mengatakan, jika puasa lebih dari 18 jam, maka Anda dapat mengikuti waktu Mekah atau Madinah, atau waktu di negara muslim terdekat," katanya.

Sementara, "Ulama Saudi mengatakan apapun, panjang atau pendek, Anda harus mengikuti waktu setempat".

Sumber
Liputan6